Postingan

sempurnanya

Direngkuh dengan sebegitu hebatnya, hingga dunia terasa lebih ringan. Kasih ini tidak menekan, tidak membuatku resah, hanya tawa yang tiba-tiba mekar, dan senyum yang tiba-tiba singgah. Aku bahagia, seolah hari-hariku adalah musim semi, seolah setiap katanya adalah cahaya pagi. Namun, dari sempurnanya rasa yang kuterima, ada satu ruang yang tetep kosong. Tetap hampa tak terisi oleh rasa. Segalanya ini indah, tapi bukan milikku. Aku hanya senyum yang singgah, bukan hati yang benar-benar terikat. Aku...., hanya penonton yang tersenyum, bukan pemeran yang jatuh hati.

Bayangan yang Bertahan

Masih disini, disisimu. Namun sedikit berbeda. Aku masih seperti bulan di langitmu,  tetap menggantung, meski malammu tak lagi menatap. Aku masih seperti bayangan di senja,  menyertai langkahmu. Matahari perlahan beranjak ke barat, cahaya-nya tak lagi menoleh ke arahku. Aku masih bunga yang tetap mekar diam-diam, meski cahaya tak lagi singgah dikelopaknya. karena nyatanya, aku tak pernah benar-benar siap. Seperti bayangan yang tetap mengikuti, meski langkahmu tak lagi menoleh, aku bertanya: masihkah bayangan punya arti, atau hanya sekedar jejak yang terlupakan?

Rasa Melampaui Nyata

Nyatanya, rasa selalu melampaui nyata. Aku berdiri bersama bayanganmu,  meski cahaya tak lagi menuntunmu padaku. Dan di sanalah menjadi jelas, abadinya ketidakmungkinan.

Berdamai dengan Abadi

Banyak warna kutemui, namun semkain jelas tampak satu titik. Setelah kuwarnai ribuan kali, titik hitam itu tetap menjadi sunyi yang paling lantang. Titik yang tak pernah luluh, tetap menjadi pusat yang menelan segala warna. Dan aku pun mengerti, ada luka yang memilih abadi. Aku pun berdamai, bahwa abadi kadang berarti menerima yang tak bisa hilang.

Cahaya Gema Suara

Pada perantara cahaya itu aku menemukanmu, senyum tulus menembus batas, tanpa rasa kepura-puraan, bahkan ia lebih bersinar dari cahaya itu sendiri. Ketika banyak orang yang kutemui berseru tentang keindahannya. Padanya, kutemui keindahan yang ia sembunyikan tanpa sorakan itu... diam-diam tumbuh, diam-diam memikat. Ini kekaguman tanpa makna, seperti bayangan yang ingin kuraih namun menjauh saat kusentuh. Seperti bayangan, ketika kuberjalan kearahnya ia pun melangkah lebih jauh ia hadir dan tak hadir sekaligus menyisahkan jarak yang tak pernah selesai. Namun, ada gema suara yang mengalun menembus pada ruang sunyiku menjadi irama yang mengikatku menahan langkahku untuk tetap disini, disisimu.

Naskah Monolog

Naskah yang hanya aku penulisnya, terlipat kembali. Tidak akan dibawakan pada panggung drama itu. Karena tokoh utamanya tak lagi nyata. Di balik tirai panggung yang takkan ku buka berdirilah aku sendiri, menatap kosong kursi penonton yang sepi,  bergema monolog jiwa yang tak selesai,   mengulang kata-kata yang tak pernah rampung. bergema monolog jiwa yang tak selesai, mengulang kata-kata yang tak pernah rampung.

Keindahan Tanpa Sorak

Dibalik sosok yang pernah mematahkan hatimu,  ada seseorang yang juga mematahkan kekecewaanmu. Ia hadir bukan dengan bersorak,  melainkan dengan keindahan yang disembunyikan