Apakah aku harus tetap tinggal? pada rumah yang ruang-ruangnya pun tak disediakan untukku. Yang belum kamu rapikan agar aku bisa merasa benar-benar berada di dalamnya. Rumah yang memaksaku menjadi sosok pemilik sebelumnya. Aku dulu berpikir, selama rumah itu adalah kamu, selama ada kamu di suatu tempat, aku pasti mampu menjadi apa pun yang kamu mau. Aku ingin selalu berada di tempat yang ada kamunya. Tapi nyatanya, aku tak pernah nyaman menjadi orang lain. Dan setiap kali aku berusaha, pertanyaan-pertanyaan ini selalu muncul di benakku: Apakah yang kamu inginkan adalah dia, atau aku yang menyerupai dia? Apakah yang kamu inginkan adalah dia, atau sosoknya yang harus ada dalam diriku? Dan jika yang kamu inginkan memang dia, mengapa kamu membuatku tetap tinggal? Pada akhirnya, aku menyerah. Aku tak bisa tetap tinggal. Aku sadar bahwa yang kau inginkan bukan aku. Aku punya esensi sendiri, yang mungkin akan lebih...