Pada perantara cahaya itu aku menemukanmu, senyum tulus menembus batas, tanpa rasa kepura-puraan, bahkan ia lebih bersinar dari cahaya itu sendiri. Ketika banyak orang yang kutemui berseru tentang keindahannya. Padanya, kutemui keindahan yang ia sembunyikan tanpa sorakan itu... diam-diam tumbuh, diam-diam memikat. Ini kekaguman tanpa makna, seperti bayangan yang ingin kuraih namun menjauh saat kusentuh. Seperti bayangan, ketika kuberjalan kearahnya ia pun melangkah lebih jauh ia hadir dan tak hadir sekaligus menyisahkan jarak yang tak pernah selesai. Namun, ada gema suara yang mengalun menembus pada ruang sunyiku menjadi irama yang mengikatku menahan langkahku untuk tetap disini, disisimu.
Aku begitu bahagia saat kau mengizinkanku masuk ke dalam hidupmu. Bahagia karena bisa menjadi bagian darimu, turut serta dalam halaman-halaman ceritamu. Namun, kebahagiaan itu ternyata keliru. Aku berpikir kita akan menulis kisah baru, sebuah cerita yang hanya milik kita berdua. Tapi yang kau inginkan bukan itu. Kau ingin mengulang kisah yang telah berlalu, dan aku hanyalah pengganti—sebuah bayangan dari masa lalu yang kau coba hidupkan kembali.
Aku menyukai bunga dan selalu aku ingin memilikinya. Namun, saat ini baru kusadari bahwa tak semua bunga yang kusukai harus kumiliki. Ada bunga yang aku sukai hanya bisa dipandang keindahannya, tanpa perlu aku memmetiknya.
Komentar
Posting Komentar